Logo Kampung Tercinta

Sabtu, 25 Juni 2011

Trik Bikin Kalimat Pembuka yang “Nendang”

Diposting oleh Dhanistyo di 08.00 0 komentar

Oleh Joni Lis Efendi


Kalimat pembuka (KP) adalah bagian penting untuk menarik perhatian pembaca untuk melanjutkan membaca cerpen sampai selesai. Jika gagal menghadirkan kalimat pembuka yang mengigit rasa penasaran pembaca, dijamin cerpenmu akan digeletakkan begitu saja. Atau, jika dikirim ke Koran atau majalah tidak akan mendapat lirikan dari redakturnya.

Dalam kondisi bagaimanapun, KP sangat menentukan dalam penilaian yang akan dilakukan oleh dewan juri lomba. Ini rahasia dan trik mencuri perhatian redaktur koran/majalah atau dewan juri lomba, pertama judul yang memikat, dua kalimat pembuka yang menyentak, dan ending yang tak terduga. Ketiga gabungan ini adalah salam perkenalan yang wajib diperhatikan oleh penulis cerpen manapun jika cerpennya mau dibilang sukses.

Pada Kelas Online (KO) kali ini, kita akan membahas dan mendiskusikan tentang trik menulis kalimat pembuka yang nendang abis, bikin penasaran, dan penuh kejutan yang mencengkram kuat pikiran pembaca.

Hal yang perlu diperhatikan supaya KP-nya “nendang”:

1) Mulai dengan kalimat dinamit (ledakan), mengagetkan, menyentak, meninju kapan perlu menendang rasa ingin tahu pembaca lengkap dengan efek dramatisnya. Kalimat seperti ini akan kuat mencengkram rasa ingin tahu pembaca seperti apa kelanjutan ceritanya. Jika kalimatnya terlalu datar apalagi bertele-tele, dijamin bakal ditinggal cerpennya. Kalau kalimatnya biasa-biasa saja, mendingan ke gunung aja (cari inspirasi lagi).

2) Masukan kata judul dalam kalimat pembuka. Tujuanya untuk memfokuskan perhatian pembaca pada tema yang kita angkat. Judul selain sebagai kepala cerpen, juga berperan sebagai kunci memasuki tema cerita. Dengan langsung diikat dengan kalimat pembuka, maka kita sudah menarik kaki pembaca untuk masuk lebih dalam ke rumah cerpen.

Contoh: judul "Mata Pisau"

Kalimat pembukanya: Tajam mata pisau itu tak lagi tampak berkilau tapi berbalur merah darah.

3) Gunakan kalimat aktif. Kalimat aktif lebih hidup dan memiliki efek kekinian serta terasa dekat dengan pembaca. Selain itu, kalimat aktif lebih mudah dicerna pikiran bawah sadar kita.

Contoh kalimat aktif: Tatap matanya menusuk sampai ke ulu hatiku. (perhatikan kata kerja aktif ditulis tebal)

Contoh kalimat pasif: Rantang itu dipinjam Mbak Phoe selama 2 bulan tapi tak kunjung dikembalikan. (perhatikan kata kerja pasif ditulis tebal)

4) Idealnya kalimat pembuka 10-12 kata. Kalau terlalu panjang akan mengaburkan maknanya.

5) Gunakan kalimat narasi yang hidup atau dialog yang lugas. Sebaiknya hindari membuka cerpen dengan deskripsi, yang biasanya tidak langsung menyentuh isi cerita. Kalimat narasi yang bertenaga bisa dibakar dengan bensin metafora atau majas.

Contoh kalimat narasi yang hidup: Ucapannya menyayat-nyayat hatiku.

Contoh kalimat narasi yang biasa-biasa saja: Ucapannya membuat hatiku terasa sakit mendengarnya.

6) Hindari menggunakan kalimat deskripsi yang berlebihan dan tidak langsung menyinggung isi cerita.

Contoh: Matahari bersinar terik di angkasa raya. Burung-burung berkicau merdu. Anak sungai terdengar riaknya lembutnya di sela bebatuan. Sungguh, pagi ini menyuguhkan keindahan dan kedamaian dst.

7) Hindari penggunaan kata keterangan waktu atau tempat yang tidak terlalu dibutuhkan dalam pencitraan (penggambaran cerita). Malahan teknik membuka dengan keterangan waktu ini terkesan kurang kreatif, kaku dan bikin bosan.

Contoh keteranan waktu:

Di pagi ini, matarahri bersinar lembut, membangunkan alam yang terlelap dari mimpi semalam.

Pada suatu hari, aku bertemu dengan seorang gadis nan rupawan membawa selendang merah muda.

Contoh keterangan tempat.

Di rumah ini, tidak ada seorang pun yang mengerti tentang perasaanku.

Pada bagunan usang dimakan zaman itu, tak ada lagi yang tersisa selain kemiskinan penghuninya.

8) Langsung libatkan tokoh cerita dalam kalimat pembuka.

Contoh:

  • Tatapan gadis itu membekukan setiap langkah kakiku.
  • Aku menemukan keanehan dari sikapnya beberapa hari ini.
  • Kau tak akan pernah bisa menjumpainya lagi karena ia sudah jadi mayat.
  • Kata Ibu, aku harus bisa mengatasi semua ini seorang diri.
  • Aku pernah lewat di bawah pohon angker itu tengah malam dan melihat sosok itu.

Sumber :

www.menulisdahsyat.blogspot.com

www.writing-revolution.com

Sekilas Tentang Flash Fiction

Diposting oleh Dhanistyo di 07.29 0 komentar
Oleh Mardiana Kappara

“Flash fiction dimaksudkan untuk dibaca sekejab (flash), atau sepuntungan rokok.”
(Didik Wijaya, Apa Itu Flash Fiction?, 2006, www.escaeva.com)

Flash fiction atau disebut juga sudden fiction, micro fiction, postcard fiction atau pun short-short fiction. Jenis cerita rekaan ini tergolong dalam sub-genre cerpen. Kriteria flash fiction sehingga membedakannya dari cerpen adalah dari segi jumlah kata yang dipakai. Apabila cerpen mencakup 2 ribu hingga 20 ribu kata, maka fiksi ini dibangun kurang dari 2 ribu kata. Kebanyakan flash fiction berkisar dari 100 hingga 1500 kata.

Saat ini, seringkali istilah flash fiction muncul di dunia cerita fiksi. Merebaknya kegiatan sastra dunia maya melahirkan istilah baru ini. Kebiasaan manusia yang hanya mampu membaca secara intens selama 10-15 menit di layar komputer dengan cahaya kuat menyorot menyebabkan hanya artikel-artikel pendek atau cerita-cerita fiksi super pendek yang enak dinikmati di layar komputer mereka, sekitar 100 sampai dengan 1500 kata.

Oleh karena itulah kemudian, karya-karya flash atau sekilas ini kemudian muncul menjadi primadona baru di dunia cerita fiksi. Beberapa penulis fiksi mulai mengkhususkan diri pada karya-karya ini. Namun, beberapa penikmat fiksi kemudian melontarkan kritikannya terhadap penulis flash fiction, seperti yang muncul di Kompasiana, bahwa Flash Fiction lambat laun akan memandulkan kompetensi penulis untuk menulis cerita-cerita fiksi yang lebih panjang seperti cerpen atau bahkan novel.

Apakah sepenuhnya benar demikian? Bagi sebagian penulis malah menganggap flash fiction merupakan sebuah tantangan tersendiri dalam dunia menulis fiksi. Dengan tetap mengandung unsur cerpen, seperti karakter, setting, konflik, dan penyelesaian dengan media yang sangat minim, penulis dituntut mampu menyuguhkan cerita yang menarik dan memiliki pesan moral.

Kunci keberhasilan sebuah flash fiction terletak pada ending. Flash fiction menyajikan satu atau dua karakter tokoh saja, dengan setting sederhana, sebuah konflik ringan, dan diakhiri dengan penyelesaian yang mengejutkan.

Menulis Menembus Batas

Diposting oleh Dhanistyo di 07.18 0 komentar
Oleh Ayna Wardhani

Batas apa yang harus ditembus untuk menghasilkan tulisan yang menarik? Jika Anda hobi menulis fiksi, salah satu tips penulisan ini mungkin bisa membantu Anda dalam menulis karya. Menulis fiksi memang berbeda dengan menulis tulisan ilmiah atau artikel. Unsur imajinasi adalah kekuatan dari tulisan-tulisan fiksi. Memang ada tulisan fiksi yang ditulis berdasarkan kisah nyata. Tetapi tanpa tambahan imajinasi, tulisan akan terasa hambar.

Imajinasi bisa berkembang sesuai dengan tema yang kita inginkan. Tema sendiri, bisa kita temukan dimana-mana dan kapan saja. Tetapi untuk menjadikan tema tersebut unik dan bisa diolah menjadi karya yang berbeda dengan tulisan lain yang pernah ada, kita harus berani menembus batas. Dalam pepatah lama dikatakan ‘to be creative, we must think out of the box’. Keluarkanlah pikiran dan imajinasi kita dari dalam kotak. Kita tembus batas-batas yang ada di ‘pikiran kebanyakan orang’ sehingga apa yang kita hasilkan menjadi unik.

Tidak sulit untuk melakukannya. Anda hanya harus memelintir tema-tema umum menjadi sedikit ‘nyeleneh’. Misalnya sebuah perlombaan meminta Anda menulis sebuah cerita tentang hujan. Anda boleh inventaris apa-apa yang bisa Anda tulis, misalnya hujan hingga menyebabkan banjir, hujan yang syahdu dan melukiskan kesedihan, hujan yang tak kunjung datang, dan seterusnya. Apakah menurut Anda itu tema yang unik? Sudah banyak orang yang menuliskan kisah dengan tema-tema demikian.

Sekarang lompatlah dari pagar pikiran Anda dan temukan sesuatu yang berbeda. Mengapa Anda tidak sedikit ‘nyeleneh’ dengan menceritakan tema hujan batu? Atau hujan uang? Atau hujan darah kalau Anda ingin menulis genre horor? Atau tiba-tiba hujan tidak turun dari langit tetapi sebaliknya air di bumi mengucur bagai hujan ke langit? Memang kedengaran aneh, tetapi akan jadi menarik bila cerita ini kita garap dengan apik.

Hanya saja, ada satu hal lagi yang harus Anda ingat. Semakin aneh tema yang Anda angkat, tidak berarti semakin bagus kualitas tulisan Anda. Tema yang aneh/unik tidak berkorelasi setara dengan kualitas tulisan Anda. Tetap saja cara penyajian Anda menjadi penting untuk membuat tulisan Anda bagus atau tidak. Tema yang aneh, tema yang unik, tema yang menembus batas, hanya membantu Anda untuk membuat tulisan lebih menarik. Nilai lebih berikutnya, kembali pada racikan bumbu yang Anda berikan. Selamat mencoba.

Sumber: http://id.shvoong.com/writing-and-speaking/2169316-menulis-menembus-batas/#ixzz1QIV9FgsL

Unsur-Unsur Pembangun Fiksi

Diposting oleh Dhanistyo di 07.14 0 komentar
Oleh Mardiana Kappara

Unsur-unsur pembangun Karya Sastra (fiksi), berupa:

1. Tokoh dan Penokohan
Tokoh adalah yang melahirkan peristiwa (Saleh Saad dalam Lukman Ali, 1967: 122). Ditinjau dari segi keterlibatannya dalam keseluruhan cerita, tokoh fiksi dibedakan menjadi dua, yaitu:
(1) Tokoh sentral atau tokoh utama
(2) Tokoh periferal atau tokoh tambahan
(Suminto, 1988: 31)
Menurut Saleh Saad (1978:i-ii) penggambaran watak atau karakter tokoh cerita bisa disampaikan pengarang kepada pembaca dengan dua cara, uraian (telling) dan ragaan (showing). Uraian adalah pengarang menyebutkan secara langsung masing-masing kualitas tokoh-tokohnya. Sementara ragaan (showing) adalah metode penokohan dimana pengarang membiarkan tokoh memperkenalkan dirinya sendiri pada pembaca melalui kata-kata, tindakan dan perbuatan tokoh itu sendiri di dalam cerita.

2. Alur dan Pengaluran
Menurut Mochtar Lubis (dalam Soediro Satoto, 1986: 35-36), alur terdiri atas:
(1) Situation ( pengarang mulai melukiskan suatu keadaan)
(2) Generating circumstances (peristiwa yang bersangkutan mulai bergerak)
(3) Rising action (keadaan mulai memuncak)
(4) Climax (peristiwa-peristiwa mencapai puncaknya), dan
(5) Denouement (pengarang memberikan pemecahan sosial dari semua peristiwa).
Berdasarkan tekniknya, alur dibedakan menjadi, alur maju (progresif), alur mundur (regresif), dan alur campuran.

Alur cerita fiksi dianggap baik apabila mengandung unsur-unsur berikut:
a. Plausibility ‘kemasukakalan’
Cerita berjalan secara masuk akal, saling berkaitan, dan terdapat hukum sebab akibat yang sifatnya alamiah. Misalnya, menceritakan seorang anak petani miskin buta huruf yang menjadi presiden. Harus ada sebuah titik cerita yang menjadi alasan kuat terjadinya perubahan tersebut.
b. Suprise ‘kejutan’
Cerita yang menarik seharusnya tidak hanya datar dan menjemukan. Ada kejutan-kejutan yang membuat pembaca tertarik mengikuti cerita hingga selesai.
c. Suspense ‘penasaran’
Timbulkan rasa penasaran pembaca pada akhir cerita dengan alur cerita yang tidak mudah ditebak.
d. Unity ‘keutuhan’
Antara awal cerita, tengah, dan akhir cerita adalah sebuah rangkaian yang utuh dan saling terkait.

3. Latar dan Pelataran (setting)
Latar ialah waktu, tempat, atau lingkungan terjadinya peristiwa. Suminto A. Sayuti (1988: 60) mengemukakan bahwa paling tidak ada empat unsur yang membnetuk latar fiksi, yaitu:
(1) Lokasi geografis yang sesungguhnya, termasuk di dalamnya topografi, scenery ‘pemandangan’ tertentu, dan juga detil-detil interior sebuah ruangan atau kamar.
(2) Pekerjaan dan cara-cara hidup tokoh sehari-hari.
(3) Waktu terjadinya action ‘peristiwa’ (tindakan), termasuk di dalamnya periode historis, musim, tahun dan sebagainya.
(4) Lingkungan religius, moral, intelektual, sosial, dan emosional tokoh-tokohnya.
Latar belakang atau setting yang disajikan penulis tidak berlaku sebagai background semata, tetapi juga menjadi unsur pendukung yang memiliki peran penting menghidupkan sebuah cerita fiksi.

4. Sudut Pandang
Macam-macam sudut pandang yang dikemukakan S. Tasrif dalam Teknik Mengarang karya Moctar Lubis, terdapat 4 kemungkinan, yakni:
(1) Author Omniscient, pengarang menggunakan kata “dia” untuk tokoh utama, tetapi ia turut hidup dalam pribadi pelakunya.
(2) Author Participant, pengarang turut serta dalam bagian cerita menggunakan kata “aku” baik sebagai tokoh utama maupun peran pembantu dalam cerita.
(3) Author Observer, pengarang sebagai peninjau, seolah-olah ia tidak dapat membaca jalan pikiran pelaku atau tokoh cerita.
(4) Multiple atau campuran, perpaduan antara unsur-unsur di atas.

5. Gaya Bahasa dan Nada
Gaya bahasa meliputi pemilihan kata, penggunaan dialog, penggunaan detail, cara memandang persoalan, dan sebagainya. Menurut Suminto A. Sayuti (1988: 78) mengatakan bahwa gaya merupakan sarana sedangkan nada merupakan tujuan. Gaya bahasa adalah ciri khas pengarang.

Sumber : http://id.shvoong.com/how-to/writing/2171113-unsur-unsur-pembangun-fiksi/

Pengulangan Subjek dalam Satu Paragraf

Diposting oleh Dhanistyo di 07.08 0 komentar
oleh Joni Lis Efendi II


Ini contoh kasus penulis yang tak kreatif selalu mengulang-ulang subjek dalam satu paragraf. Amit-amit jika dalam satu kalimat sampe 5 kali subjeknya diulang. Waduh ... bikin lemas yang bacanya.

Contoh pengulangan subjek dalam satu kalimat:

Dia datang membawa bakul nasi, lalu dia meletakannya di atas meja makan yang dia lap karena mejanya basah oleh air yang tak sengaja dia tumpahkan dari gelas yang dia letakkan sembarangan. (hitung sendiri berapa kata diulang kata "dia" dalam kalimat ini)

Kalimat yang lebih lezat:

Dia membawa bakul nasi hendak diletakkan di atas meja makan, tak sengaja tanggannya menyenggol gelas berisi air hingga tumpah membasahi meja, segera dilapnya.

Paragraf yang berisi pengulangan subjek yang membosankan dalam setiap kalimatnya, contoh:

Doni mengambil surat itu dengan ragu. Doni menimbang-nimbang apakah dia akan membacannya atau tidak. Mata Doni mengamati amplop yang tak beralamat pengirim itu. Kemudian Doni berdiri dari duduknya menuju jendela. Terdengar dengus napas Doni yang dia hembuskan dengan berat. Doni menduga-duga apa isi surat itu. Apakah ini dari Siska, pacar Doni yang dia putuskan sebulan lalu?
(hitung sendiri berapa kali kata "Doni" dan "dia" diulang dalam paragraf di atas)

Nah, bandingkan dengan paragraf ini:

Ragu-ragu Doni mengambil surat tanpa alamat pengirim itu. Tangannya menimang-nimang sebentar, apakah harus membacanya sekarang. Sekali lagi matanya mengamati lekat-lekat surat itu. Masih ragu. Berlahan diangkat bongkongnya dari tempat duduk lalu melangkah menuju jendela. Nafasnya mendengus berat. Apakah ini dari Siska, pacarnya yang diputus sebulan lalu, duganya?

Sumber :

www.menulisdahsyat.blogspot.com
 

WR3VO Magazine Copyright © 2010 Designed by Ipietoon Blogger Template Sponsored by Emocutez