Logo Kampung Tercinta

Kamis, 12 Januari 2012

THR

Diposting oleh Dhani Setiyono di 16.02
Reaksi: 
Oleh Wangi Kesturi
*Juara 2 Lomba FF WR 3

Kue apem beraroma harum manis menghias meja, menggugah selera. Sudah menjadi tradisi di tempat kami, satu hari menjelang Ramadhan membuat panganan kecil itu sebagai tanda gembira menyambut datangnya bulan Agung.

Kali ini kue apem tidaklah begitu penting. Ada hal lain yang membuat aku lebih tergugah menyambut Ramadhan. Sebuah kesepakatan kubuat dengan Ibu dan Bapak. Besuk hari pertama shaum, jika aku bisa sampai bedug maghrib maka THR akan kudapatkan. Sebenarnya tidaklah layak jika di bilang Tabungan Hari Raya, karena hanya uang jajan bonus lulus puasa. Tapi biarlah, agar aku semangat menjalankan, mungkin begitu maksud orang tuaku. Lumayan, bisa untuk beli sepatu kaca warna merah lebaran nanti.

Hari pertama aman terkendali, karena seharian aku tidur agar tidak terasa lapar dan haus. Maklum ketika itu masih banyak teman-teman seusiaku yang berpuasa penuh, walau pun telah kelas tiga SD. Meski pun ada bisa di hitung dengan jari.

Menginjak hari ke dua, aku sedikit sombong karena kemarinnya terasa mampu. Maainlah aku, lari-larian tak menghiraukan larangan Ibu. Alhasil jam tiga sore aku pun terkapar tak berdaya. Dan ... gagal deh dapat THR gara-gara nasi sisa makan sahur semalam yang akan di kasihkan ayam. Hihi, salah siapa coba? Sampai makan nasi jatah ayam.

Dua puluh hari telah berlalu, lumayan THR sudah terkumpul tujuh belas karena sudah bolong tiga. Seperti tahun-tahun sebelumnya jika telah datang sepuluh hari terakhir. Di tempat kami biasa ada tradisi hantaran atau ater-ater bahasa jawanya. Yang muda memberikan hantaran rantang berisi nasi beserta lauk pauk dan panggang ayam kepada yang lebih tua.

Iclik-iclik, “Mbah, di suruh Ibu nyaosi dahar. ” Bertiga dengan kakak aku masuk rumah Simbah sambil membawa rantang serta tas isi panggang ayam.

Kali ini simbah banyak tamu, ada empat orang yang datang ngantar rantang nasi sama sepertiku. Tidak tahu siapa, mungkin sahabat beliau.

“Iya, Nduk. Tunggu dulu masih ada tamu. Sana main dulu!” perintah Simbah sambil ke ruang depan menemui tamunya.

Satu jam sudah kami main sambil menunggu isi rantang di pindahkan serta potongan ayam panggang untuk kami. Iya, biasanya Simbah membelah ayamnya jadi dua dan mengembalikan yang separo untuk kami berbuka.

Sesuai pesan Ibu, sebelum jam lima sore harus sudah pulang. Kami pun bergegas mohon pamit, agar cepat sampai rumah sebelum adzan maghrib berkumandang.

“Mbah, pamit.” Sambil mondar-mandir di dekat tamu kami pamit.

“Iya, ati-ati mbonceng adiknya!” pesan simbah.

Wah ... masih ada yang kurang nih dari simbah, berkali-kali kami bertiga saling berpandangan, saling mengerti isyarat masing-masing. Simbah gimana ya? Kok lupa sih.

Sambil mondar-mandir kami pamit lagi sampai tiga kali, dengan harapan simbah akan segera ingat dengan kebiasaannya.

“Cepat pulang, nanti Ibumu bingung!” teriak Simbah dari dalam rumah.

“Mbah, Adik nesu. ” jelas kakakku pada Simbah

“Ya Allah ... iya, Simbah lupa belum kasih sangu. Sini, Le, Nduk!” segera kami masuk kembali memenuhi panggilan dan mengambil jatah THR dari Simbah.

“Yess ... Yess. Berhasil.” Sambil senyum-senyum kami pun langsung pulang.

Selalu indah bersama Ramadhan dan Idul Fitri, sebuah kesan yang tak mungkin terlupa. Sekecil apa pun bentuk support yang kita terima akan membawa hikmah di kemudian hari.

0 komentar:

Posting Komentar

 

WR3VO Magazine Copyright © 2010 Designed by Ipietoon Blogger Template Sponsored by Emocutez