Logo Kampung Tercinta

Minggu, 26 Juni 2011

Akhirnya

Diposting oleh Dhanistyo di 07.05 0 komentar

oleh Katrin Pepita


“Ooo… mahasiswa abadi!” Seorang ibu yang pertanyaan-pertanyaannya kutanggapi dengan baik sedari menunggu antrian bank, dengan teganya meruntuhkan hati ibuku yang sudah rapuh, koyak-koyak. Pagi-pagi sekali Ibu sudah bersiap akan mengantarkanku menyetor sejumlah uang untuk semesteran. Ia memasak jauh lebih pagi. Pukul delapan tepat kami berangkat. “Gak ada yang ketinggalan, Teh?” Suaranya lemah, mungkin terselip dalam harap langkahnya, pagi itu adalah pagi terakhir ia melihat anak sulungnya membayar uang kuliah .

Kali pertama aku berjalan bersama Ibu setelah berhenti dari pekerjaan sungguh menyesakkan. Tak terbayangkan setahun kemarin mungkin Ibu harus menghadapi kata-kata yang sama, atau bahkan lebih menyakitkan.

Sekuat ia menopang diriku dalam rahimnya selama sembilan bulan, setegar ia ditinggalkan ayah menunaikan tugas saat masa kehamilan, sekokoh itu pula ia terlihat di permukaan, bertahan menghadapi Ibu Berlidah Tajam. “Iya, baru masuk lagi. Kemarin kerja setahun.” Alhamdulillah. Jauh di dalam sana kuucap syukur pada yang Maha Mendengar. Tak ada getaran dalam suara Ibu kukira. Padahal urat-urat di leherku saja sudah cukup meradang.

Teringat hari-hari yang lalu, betapa aku membuat dada ibuku susah bernafas. Sering ditariknya rongga dada hingga benar-benar mengembang dan mengempis hingga aku tak yakin apakah benar oksigen masuk ke dalam paru-paru Ibu. Tak hanya sekali, tak dapat kuhitung dengan jari, terutama saat jadwal bimbingan masuk agenda pagi. “Gak jadi bimbingannya, Teh?” Tanya Ibu setiap pakaian kerja telah siap ditata di atas tempat tidur. Jika sudah begitu, otomatis badanku bergerak lebih cepat, bukan cepat membuka dokumen-dokumen di komputer, bukan mempersiapkan bahan-bahan bimbingan, tapi bergerak lebih cepat menghilang dari hadapan Ibu.

Cukup sudah satu tahun aku sembunyi di balik jabatan karyawan perusahaan bergengsi. Aku tak mau ibuku bertemu kembali ibu-ibu macam Ibu Berlidah Tajam di bangku tunggu bank seperti pagi tadi. Semangatku sedang puncak-puncaknya. Begitu kubuka pintu, langsung kuseret kakiku ke hadapan komputer. Harus ada yang kuhasilkan hari ini !!!, pekikku dalam hati.

Kukumpulkan semua referensi beserta hasil kerja pikiranku. Ternyata banyak juga. Bertumpukan, berbentuk kertas dan soft file. Data berseliweran. Tapi tak satu benang merah pun yang nyangkut ke dalam mesin pengolah data anugerah Ilahi. Beban di kepala rasanya lebih berat dari beban kaki yang kupakai jalan ke bank tadi pagi.

Kuturunkan tempo berpikirku, kutunggu-tunggu, tapi ide tak juga muncul. Kupaksakan mengetik, dengan kilat kuhapus kembali apa yang telah kuketikkan. Semburat merah di cakrawala sana sudah surut benar. Selubung hitam kembali berkuasa. Aku pun tergoda untuk mengistirahatkan diri. Ternyata tidak semudah yang kubayangkan tadi pagi. Tuhaaaan. Apakah ada kesempatan bagiku untuk memperbaiki semuanya. Hanya dengkuran jangkrik di luar sana yang jawab tanyaku. Semakin tenggelamlah aku dalam rayuan malam.

Huufft…. Sudah pagi! Misi hari pertamaku gagal dengan mantap. Semangatku hari kemarin tak sanggup menahan beratnya mata dan pegal yang menyerang. Rasanya seperti habis kemping di gunung puntang. Aku benar-benar butuh istirahat. Tapi, bayangan Ibu Berlidah Tajam sekilas menyapa rasa. Kupaksakan menggantung kelopak mata.

Sambil kusiapkan otakku, kucuci mataku dengan melihat-lihat akun teman-teman masa sekolah di akun jejaring sosial mereka. Si A sedang berusaha menyelesaikan studi di Eropa, berkeliling dari satu negara ke negara lain. Si B sedang bekerja di perusahaan asing di dalam negeri. Si C sedang bekerja di Singapura. Betapa aku sudah jauh di belakang mereka, mengantri untuk terdepak dengan tidak hormat. Kulihat pula surat-surat elektronik yang telah lama tidak kubuka karena selalu dikejar jam kerja. Batinku tertohok. Ternyata keinginan membahagiakan Ibu belum menjadi impian sejatiku selama ini. “Impian sejati adalah ketika kamu begitu menginginkan udara saat tenggelam dalam lautan biru di luar sana”

30 juli 2010. Pengapku sudah memuncak. Kutemukan udaraku. Namaku terdaftar sebagai salah satu mahasiswa yang telah melewati sidang di jurusan pendidikan bahasa inggris, Universitas Pendidikan Indonesia. Akhirnya.

Ini, Untukmu

Diposting oleh Dhanistyo di 07.02 0 komentar


Oleh Ni Putu Deanitha Rizki Awalia.

Aku masih ingat senyum, gaya bicara, bahkan ekspresi wajah kesalnya saat aku dengan sengaja menyembunyikan kunci motornya. Aku masih ingat bagaimana dengan setia dia menungguku menyelesaikan setiap tugas-tugasdari guru komputerku. Semua terasa begitu nyata, meskipun sudah hampir lima tahun, dia sama sekali tidak menyapaku. Hanya sesekali dia hadir dalam tidur malamku untuk mengobati rasa rinduku.

Pernah suatu malam, saat semua orang di rumahku terlelap, dia hadir untuk yang kesekian kalinya dengan senyum yang begitu indah.Aku pikir itu adalah saat yang tepat untuk menanyakan sesuatu padanya. Namun dia tidak menjawabku. Dia hanya kembali tersenyum kemudian pergi meninggalkanku.

“Ini, untukmu,” suara itu tiba-tiba saja menarikku kembali pada duniaku yang sesungguhnya. Dunia dimana aku harus tetap melangkah ke masa depan. Aku menoleh ke arah seorang laki-laki yang telah menjadi sahabat baikku sejak aku masih di Taman Kanak-Kanak. Agus, aku biasa menyapanya. Dia menyodorkan sebuah gulungan kertas ke arahku. Aku tidak langsung mengambil kertas itu. Aku hanya memandanginya sejenak, kemudian mengalihkan pandangan ke sisi lain dari tempat ini.

“Sampai kapan?,” tanyanya lagi. Aku hanya terdiam. Lebih tepatnya aku tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaannya itu. “Jika terus seperti ini, kau tidak hanya memgecewakanku, tapi juga semua orang yang mendukungmu. Keluarga, sahabat-sahabat bahkan guru-gurumu,”lanjutnya, membuat aku semakin terpuruk. Apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku mengambil gulungan kertas di tangan Agus, menulis biodataku sesuai format yang telah tersedia, kemudian memainkan jari-jemariku di atas keyboard notebook? Mampukah aku menuangkan apa yang ada di pikiranku mengenai dia yang sangat aku sayangi?

“Rieta, dia sangat menyanyangimu. Apa kau yakin, keputusanmu adalah satu bukti bahwa kau juga menyanyanginya?”

Deg! Entah karena apa, pertanyaan Agus yang sangat lembut itumembuat aku seperti kehilangan kemampuan untuk bernafas. Benarkah keputusan yang aku ambil? Benarkah aku dapat membuat banyak orang bahagia jika aku ma menerima tawaran Agus? Pertanyaan-pertanyaan itu berkecamuk di dalam diriku. Kembali terlintas dalam benakku, sosok seorang kakak yang sangat aku sayangi.

Dulu, dia pernah mengatakan padaku bahwa dia ingin menjadi seorang guru. Dia ingin segera menyelesaikan pendidikannya kemudian mengajarku di sekolah. Dia ingin suatu saat dapat terus mengawasi dan menjagaku di masa remajaku. Betapa bahagianya aku saat itu. Maka, dengan yakin pula aku mengatakan padanya bahwa aku akan menjadi guru seperti dirinya. Suatu saat, aku dan dia akan mengajar bersama, membagikan ilmu yang kami miliki kepada orang lain. Pasti keluarga kami akan sangat bahagia melihat kami bisa melayani orang lain dengan penuh sukacita. Namun sayang, semua mimpi-mimpi indah itu tidak akan pernah menjadi kenyataan.

Dia, kakak sepupu yang aku cintai pergi meninggalkan dunia untuk selama-lamanya. Kecelakaan maut 5 tahun yang lalu, telah merenggut segalanya. Cinta darinya, juga mimpi-mimpi kami. Dan kini aku sedang bergumul dengan kenyataan yang ada di hadapanku. Agus datang, membawakanku selembar formulir pendaftaran lomba menulis di salah satu Universitas ternama di kota ini. Jika aku memenangkan lomba itu, aku memiliki satu tiket untuk belajar disana sebagai calon guru, sama seperti apa yang aku dan kakakku cita-citakan. Hanya saja, permasalahannya adalah temalomba itu secara tidak langsung memaksaku untuk mengungkapkan alasan-alasan mengapa aku memutuskan untuk menjadi seorang guru. Haruskan aku memaparkan semua, juga tentang kakak? Tidakkah itu terkesan, aku memanfaatkan keadaan untuk meraih cita-citaku?

“Ta, tidak waktu lagi. Keputusanmu?,” Agus kembali melontarkan pertanyaan padaku, berusaha mencari kepastian. Aku diam, menghela nafas dalam-dalam.

“Sepertinya aku tidak bisa,”jawabku pelan. Agus tampak begitu kecewa. “Sepertinya aku tidak bisa membuat orang-orang yang menyayangiku,”kataku lagi seraya melukiskan senyum di wajahku. Agus tersetak. Mungkin saat ini dia tengah berbahagia atau bahkan tidak percaya dengan apa yang baru saja aku katakan.

“Jadi...?,”

“Jadi, jangan membuang waktu lagi,”sahutku seraya menyambar gulungan kertas yang masih digengamnya. Aku harus menatap apa yang ada di depanku. Aku akan berusaha melakukan yang terbaik. Semua ini untukmu, kakakku dan juga untuk semua orang yang menyanyangiku.

Sabtu, 25 Juni 2011

Trik Bikin Kalimat Pembuka yang “Nendang”

Diposting oleh Dhanistyo di 08.00 0 komentar

Oleh Joni Lis Efendi


Kalimat pembuka (KP) adalah bagian penting untuk menarik perhatian pembaca untuk melanjutkan membaca cerpen sampai selesai. Jika gagal menghadirkan kalimat pembuka yang mengigit rasa penasaran pembaca, dijamin cerpenmu akan digeletakkan begitu saja. Atau, jika dikirim ke Koran atau majalah tidak akan mendapat lirikan dari redakturnya.

Dalam kondisi bagaimanapun, KP sangat menentukan dalam penilaian yang akan dilakukan oleh dewan juri lomba. Ini rahasia dan trik mencuri perhatian redaktur koran/majalah atau dewan juri lomba, pertama judul yang memikat, dua kalimat pembuka yang menyentak, dan ending yang tak terduga. Ketiga gabungan ini adalah salam perkenalan yang wajib diperhatikan oleh penulis cerpen manapun jika cerpennya mau dibilang sukses.

Pada Kelas Online (KO) kali ini, kita akan membahas dan mendiskusikan tentang trik menulis kalimat pembuka yang nendang abis, bikin penasaran, dan penuh kejutan yang mencengkram kuat pikiran pembaca.

Hal yang perlu diperhatikan supaya KP-nya “nendang”:

1) Mulai dengan kalimat dinamit (ledakan), mengagetkan, menyentak, meninju kapan perlu menendang rasa ingin tahu pembaca lengkap dengan efek dramatisnya. Kalimat seperti ini akan kuat mencengkram rasa ingin tahu pembaca seperti apa kelanjutan ceritanya. Jika kalimatnya terlalu datar apalagi bertele-tele, dijamin bakal ditinggal cerpennya. Kalau kalimatnya biasa-biasa saja, mendingan ke gunung aja (cari inspirasi lagi).

2) Masukan kata judul dalam kalimat pembuka. Tujuanya untuk memfokuskan perhatian pembaca pada tema yang kita angkat. Judul selain sebagai kepala cerpen, juga berperan sebagai kunci memasuki tema cerita. Dengan langsung diikat dengan kalimat pembuka, maka kita sudah menarik kaki pembaca untuk masuk lebih dalam ke rumah cerpen.

Contoh: judul "Mata Pisau"

Kalimat pembukanya: Tajam mata pisau itu tak lagi tampak berkilau tapi berbalur merah darah.

3) Gunakan kalimat aktif. Kalimat aktif lebih hidup dan memiliki efek kekinian serta terasa dekat dengan pembaca. Selain itu, kalimat aktif lebih mudah dicerna pikiran bawah sadar kita.

Contoh kalimat aktif: Tatap matanya menusuk sampai ke ulu hatiku. (perhatikan kata kerja aktif ditulis tebal)

Contoh kalimat pasif: Rantang itu dipinjam Mbak Phoe selama 2 bulan tapi tak kunjung dikembalikan. (perhatikan kata kerja pasif ditulis tebal)

4) Idealnya kalimat pembuka 10-12 kata. Kalau terlalu panjang akan mengaburkan maknanya.

5) Gunakan kalimat narasi yang hidup atau dialog yang lugas. Sebaiknya hindari membuka cerpen dengan deskripsi, yang biasanya tidak langsung menyentuh isi cerita. Kalimat narasi yang bertenaga bisa dibakar dengan bensin metafora atau majas.

Contoh kalimat narasi yang hidup: Ucapannya menyayat-nyayat hatiku.

Contoh kalimat narasi yang biasa-biasa saja: Ucapannya membuat hatiku terasa sakit mendengarnya.

6) Hindari menggunakan kalimat deskripsi yang berlebihan dan tidak langsung menyinggung isi cerita.

Contoh: Matahari bersinar terik di angkasa raya. Burung-burung berkicau merdu. Anak sungai terdengar riaknya lembutnya di sela bebatuan. Sungguh, pagi ini menyuguhkan keindahan dan kedamaian dst.

7) Hindari penggunaan kata keterangan waktu atau tempat yang tidak terlalu dibutuhkan dalam pencitraan (penggambaran cerita). Malahan teknik membuka dengan keterangan waktu ini terkesan kurang kreatif, kaku dan bikin bosan.

Contoh keteranan waktu:

Di pagi ini, matarahri bersinar lembut, membangunkan alam yang terlelap dari mimpi semalam.

Pada suatu hari, aku bertemu dengan seorang gadis nan rupawan membawa selendang merah muda.

Contoh keterangan tempat.

Di rumah ini, tidak ada seorang pun yang mengerti tentang perasaanku.

Pada bagunan usang dimakan zaman itu, tak ada lagi yang tersisa selain kemiskinan penghuninya.

8) Langsung libatkan tokoh cerita dalam kalimat pembuka.

Contoh:

  • Tatapan gadis itu membekukan setiap langkah kakiku.
  • Aku menemukan keanehan dari sikapnya beberapa hari ini.
  • Kau tak akan pernah bisa menjumpainya lagi karena ia sudah jadi mayat.
  • Kata Ibu, aku harus bisa mengatasi semua ini seorang diri.
  • Aku pernah lewat di bawah pohon angker itu tengah malam dan melihat sosok itu.

Sumber :

www.menulisdahsyat.blogspot.com

www.writing-revolution.com

Sekilas Tentang Flash Fiction

Diposting oleh Dhanistyo di 07.29 0 komentar
Oleh Mardiana Kappara

“Flash fiction dimaksudkan untuk dibaca sekejab (flash), atau sepuntungan rokok.”
(Didik Wijaya, Apa Itu Flash Fiction?, 2006, www.escaeva.com)

Flash fiction atau disebut juga sudden fiction, micro fiction, postcard fiction atau pun short-short fiction. Jenis cerita rekaan ini tergolong dalam sub-genre cerpen. Kriteria flash fiction sehingga membedakannya dari cerpen adalah dari segi jumlah kata yang dipakai. Apabila cerpen mencakup 2 ribu hingga 20 ribu kata, maka fiksi ini dibangun kurang dari 2 ribu kata. Kebanyakan flash fiction berkisar dari 100 hingga 1500 kata.

Saat ini, seringkali istilah flash fiction muncul di dunia cerita fiksi. Merebaknya kegiatan sastra dunia maya melahirkan istilah baru ini. Kebiasaan manusia yang hanya mampu membaca secara intens selama 10-15 menit di layar komputer dengan cahaya kuat menyorot menyebabkan hanya artikel-artikel pendek atau cerita-cerita fiksi super pendek yang enak dinikmati di layar komputer mereka, sekitar 100 sampai dengan 1500 kata.

Oleh karena itulah kemudian, karya-karya flash atau sekilas ini kemudian muncul menjadi primadona baru di dunia cerita fiksi. Beberapa penulis fiksi mulai mengkhususkan diri pada karya-karya ini. Namun, beberapa penikmat fiksi kemudian melontarkan kritikannya terhadap penulis flash fiction, seperti yang muncul di Kompasiana, bahwa Flash Fiction lambat laun akan memandulkan kompetensi penulis untuk menulis cerita-cerita fiksi yang lebih panjang seperti cerpen atau bahkan novel.

Apakah sepenuhnya benar demikian? Bagi sebagian penulis malah menganggap flash fiction merupakan sebuah tantangan tersendiri dalam dunia menulis fiksi. Dengan tetap mengandung unsur cerpen, seperti karakter, setting, konflik, dan penyelesaian dengan media yang sangat minim, penulis dituntut mampu menyuguhkan cerita yang menarik dan memiliki pesan moral.

Kunci keberhasilan sebuah flash fiction terletak pada ending. Flash fiction menyajikan satu atau dua karakter tokoh saja, dengan setting sederhana, sebuah konflik ringan, dan diakhiri dengan penyelesaian yang mengejutkan.

Menulis Menembus Batas

Diposting oleh Dhanistyo di 07.18 0 komentar
Oleh Ayna Wardhani

Batas apa yang harus ditembus untuk menghasilkan tulisan yang menarik? Jika Anda hobi menulis fiksi, salah satu tips penulisan ini mungkin bisa membantu Anda dalam menulis karya. Menulis fiksi memang berbeda dengan menulis tulisan ilmiah atau artikel. Unsur imajinasi adalah kekuatan dari tulisan-tulisan fiksi. Memang ada tulisan fiksi yang ditulis berdasarkan kisah nyata. Tetapi tanpa tambahan imajinasi, tulisan akan terasa hambar.

Imajinasi bisa berkembang sesuai dengan tema yang kita inginkan. Tema sendiri, bisa kita temukan dimana-mana dan kapan saja. Tetapi untuk menjadikan tema tersebut unik dan bisa diolah menjadi karya yang berbeda dengan tulisan lain yang pernah ada, kita harus berani menembus batas. Dalam pepatah lama dikatakan ‘to be creative, we must think out of the box’. Keluarkanlah pikiran dan imajinasi kita dari dalam kotak. Kita tembus batas-batas yang ada di ‘pikiran kebanyakan orang’ sehingga apa yang kita hasilkan menjadi unik.

Tidak sulit untuk melakukannya. Anda hanya harus memelintir tema-tema umum menjadi sedikit ‘nyeleneh’. Misalnya sebuah perlombaan meminta Anda menulis sebuah cerita tentang hujan. Anda boleh inventaris apa-apa yang bisa Anda tulis, misalnya hujan hingga menyebabkan banjir, hujan yang syahdu dan melukiskan kesedihan, hujan yang tak kunjung datang, dan seterusnya. Apakah menurut Anda itu tema yang unik? Sudah banyak orang yang menuliskan kisah dengan tema-tema demikian.

Sekarang lompatlah dari pagar pikiran Anda dan temukan sesuatu yang berbeda. Mengapa Anda tidak sedikit ‘nyeleneh’ dengan menceritakan tema hujan batu? Atau hujan uang? Atau hujan darah kalau Anda ingin menulis genre horor? Atau tiba-tiba hujan tidak turun dari langit tetapi sebaliknya air di bumi mengucur bagai hujan ke langit? Memang kedengaran aneh, tetapi akan jadi menarik bila cerita ini kita garap dengan apik.

Hanya saja, ada satu hal lagi yang harus Anda ingat. Semakin aneh tema yang Anda angkat, tidak berarti semakin bagus kualitas tulisan Anda. Tema yang aneh/unik tidak berkorelasi setara dengan kualitas tulisan Anda. Tetap saja cara penyajian Anda menjadi penting untuk membuat tulisan Anda bagus atau tidak. Tema yang aneh, tema yang unik, tema yang menembus batas, hanya membantu Anda untuk membuat tulisan lebih menarik. Nilai lebih berikutnya, kembali pada racikan bumbu yang Anda berikan. Selamat mencoba.

Sumber: http://id.shvoong.com/writing-and-speaking/2169316-menulis-menembus-batas/#ixzz1QIV9FgsL
 

WR3VO Magazine Copyright © 2010 Designed by Ipietoon Blogger Template Sponsored by Emocutez